Rabu, 06 Maret 2013

Kisah Keagungan Kapal Selam Indonesia

0 komentar

Kisah menakjubkan Kapal Selam Indonesia : Pernah mendengar nggak kapal selam tampa anti radar bisa tidak terdeteksi radar canggih , nah hanya indonesia lah yang bisa

Kisah Kapal Selam Hiu Kencana (II)

semua kisah ini merupakan kisah asli yang dituturkan para saksi sebagaimana ditulis dalam buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959 - 2009.

  • Tugas Rahasia ke Pakistan

Menjelang HUT Angkatan Perang RI Tanggal 5 Oktober 1965, sebagian kapal besar kapal-kapal 
perang RI berkumpul di Tanjung Priok, termasuk beberapa kapal selam, saya mendapat tugas sebagai komandan divisi kapal selam. Semula HUT akan dilaksanakan dengan meriah namun karena aa peristiwa G 30 S maka acara pun dibatalkan.Hampir semua kapal perang kembali ke pangkalan Surabaya.
Begitu kapal merapat di dermaga kapal selam ujung, saya bersama kapten RM Handogo mendapat perintah segera ke jakarta untuk menghadap Komodor L.M Abdulkadir,sampai di Jakarta dijemput langsung oleh Komodor L.M Abdulkadir beliau membawa sendiri toyota hardtop dan membawa kami ke gedung Gita Bahari, Kami dipertemukan dengan dua orang yang belum kami kenal.

Pada pertemuan di gedung Gita Bahari itu saya dan Kapten Handogo mendapat tugas sebag
ai pimpinan RI Nagarangsang dan RI Bramasta untuk membawa kapal tersebut ke Karach yang waktu itu masih ibukota Pakistan. Perintah Pak Kadir waktu itu :
  • Tugas ini Rahasia 
  • Tarik haluan ke Karachi, hindari jalur pelayaran kapal - kapal niaga
  • Anak buah tidak boleh tahu tujuan kapal selanjutnya dalam surat menyurat dari
  • rumah menggunakan alamat konjen kasel, sedangkan dari kapal harus dikumpulkan pada komandan kapal.
Sementara kami di Jakarta, Di Surabaya kedua kapal sudah di siap tempurkan lengkap dengan personilnya, Sesampai di Surabaya ternyata saya ditunjuk sebagai komandan RI Nagarangsang sedangkan RI bramastha di komandani Kapten Pelaut Yasin Sudirjo, Kapten pelaut Handogo ternyata ditunjuk sebagai kepala staf gugus tugas X. Ternyata gugus tugas X yang dibentuk sebagai tugas latihan tersebut, tugas utamanya adalah untuk membantu negara Pakistan yang sedang di serang India, serta merendam perang yang waktu itu sedang berlangsung.

  • Pelayaran Jakarta Karachi

Setelah RI Nagarangsang dan RI Bramastha siap tempur, kapal diberangkatkan dari Surabaya 
menuju Jakarta. Sebelum bertolak ke Karachi ada dua perwira angkatan laut Pakistan yang ikut sebagai liaison officer, Mayor Yastur Malik untuk RI Nagarangsang sedangkan Kapten M.Sultan untuk RI Bramasta (kelak Mayor Yastur Malik diangkat sebagai KSAL Pakistan Navy dan Kapten M.Sultan menjadi KSAL Bangladesh Navy).  
Tanggal 17 oktober 1965 kapal bertolak menuju Karachi. Lepas selat Sunda kapal dikemudikan ke arah 270 derajat menyusur barat Sumatera. Garis haluan menerobos kepulauan maldiv, Lepas dari kepulauan maldiv garis haluan ditarik ke pantai Persia untuk menjauhi India kurang lebih 300 mil, kemudian setelah jarak dari pantai Iran 50 mil haluan kapal ditarik menuju Karachi, Pakistan.

Pertengahan bulan November 1965 kapal merapat di Pakistan Navy Naval Base, suasana peran
g tiidak terlalu terasa karena sedang terjadi gencatan senjata. Latihan militer perang dengan AL Pakistan dilaksanakan beberapa kali setelah kapal roket ALRI datang, kami menggunakan prosedur royal navy sebagaimana AL India. Lokasi latihan di lepas pantai Pakistan yang berbatasan dengan India, latihan melibatkan 2 kapal selam dan dua kapal roket cepat ALRI dari ALRI sedangkan AL pakistan menggunakan satu kapal selam serta dua destroyer.

  • Kegiatan yang lain-lain

Sebelum kapal melakukan latihan dengan AL Pakistan, kapal mengalami beberapa kerusaka
n antara lain radio DK maka diputuskan kapal melakukan perbaikan besar dulu dan menunggu kiriman dari Indonesia, sambil menunggu kapal selesai diperbaiki, kami memanfaatkan waktu untuk melakukan kunjungan - kunjungan kehormatan, tak dapat dipungkiri sepanjang jalan banyak poster - poster Presiden Soekarno yang dijual dan banyak yang menyanjung bantuan kami.
RI Pasopati di Museum, Surabaya













Saat latihan dengan AL pakistan mereka sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan kami, pengalaman yang sama dikemudian hari saya dapatkan ketika berlatih dengan AL Australia saat saya mengomandani RI Pasopati.  
Sebagian kelasi kami bahkan berkelakar kalo kapal rusia tahan sonar, tapi masa iya? mungkin ada lapisan air laut yang dinamakan layer yang membuat pantulan sonar memantul kembali. Tapi bagaimana pun itu membuat kami bangga, di samping itu dalam tugas ini juru sonar kami mendapat pengalaman baru yaitu mengenali suara baling - baling kapal Inggris.

  • Patroli bersama Malaysia

Tahun 1974 GUSPURLA (Gugus Tempur Laut) ALRI mendapat perintah dari Mabes ABRI untuk operasi pengamanan Selat Malaka bekerja sama dengan TLDM (Tentera Laut Diraja Malaysia), dalam Gugus Tempur tersebut terdapat KS RI Pasopati dengan komandan Kapten (P) Soentoro dengan Komandan Guspurla Laksamana Pertama Mardiono.  
Pada saat pembicaraan Rencana Operasi dengan perwira TLDM di Belawan, Medan mereka sudah tidak suka ada unsur Kapal Selam yang ikut dalam operasi itu "untuk apa...!?"kata mereka.
Mungkin mereka khawatir KS kita bisa dengan mudah menyelinap kedaerah mereka karena dalam rencana operasi tsb setiap armada tempur masing-masing negara berpatroli di wilayahnya masing masing setelah itu baru berkumpul disuatu titik kumpul dan berkonvoi masuk ke Penang, Malaysia pada etape I dan Sabang, Indonesia pada etape II.  
Dengan penolakan secara tidak etis tsb komandan KS RI Pasopati merasa panas, tetapi diredakan oleh Dan Guspurla demi persahabatan kedua negara, tapi diam - diam Komandan KS ingin memberi pelajaran kepada TLDM.
Pada etape I setelah selesai berpatroli maka semua kapal perang berkumpul di titik kumpul dan berkonvoi menuju Penang ... dan menjelang pintu masuk pelabuhan Penang, tiba - tiba KS RI Pasopati sudah muncul dulu disana dan membuat panik rombongan konvoi yang dipimpin oleh TLDM. Hal tersebut membuat kesal Panglima TLDM Kolonel Laut Sidiq dan berkata KS tidak usah ikut campur urusan patroli dan agar keluar dari formasi dan area patroli.
 KS RI Pasopati mendekati kapal TLDM
Pada etape II KS KRI Pasopati kelakukan free hunting (tidak mengikuti) pola patroli tetapi bebas menentukan sasaran sendiri dan setelah selesai seluruh kapal berpatroli masuk ke pelabuhan Sabang. Di sini awak KS KRI Pasopati ingin memberikan kejutan dan sekedar pamer kepada TLDM. Dengan ketelitian yang tinggi KS masuk alur pelabuhan dengan cara menyelam padahal kedalam alur pelabuhan hanya 20m, dari periskop terlihat awak Kapal TLDM jenis LST yang menjadi kapal komando tidak menyadari disekati oleh KS secara diam diam dan ... setelah tinggal jarak beberapa meter dari lambung kapal mereka ... 
Muncullah dengan tiba-tiba KS RI Pasopati dan membunyikan gauk (sirine) tanda kedatangan mereka ... maka gemparlah pelabuhan Sabang terutama awak kapal TLDM yang kapalnya sudah ditempel sama KS RI Pasopati.  
Malamnya Komandan Guspurla datang kepada Komandan KS RI Pasopati dan menyalaminya sambil tersenyum dan berkata "Jangan Sembrono lagi ya...", dijawab "Siap Laksamana".... 
  • Bikin marah komandan fregat RAN

Tahun 1975 diadakan latihan anti kapal selam antara ALRI dengan RAN (Royal Australian Navy) 
sehubungan dengan muhibah fregat RAN ke Surabaya.  
Area latihan dilakukan di selat Madura sebelah utara Pulau Bali dengan area latihan sebesar 10 Mil persegi, sebagai sasaran adalah KRI Pasopati dan yang mengejar adalah fregat kapal ALRI dan RAN.

Dalam latihan, kedua fregat tidak dapat mendeteksi KS kita, jadi mereka membom laut (denga
n bom latihan) secara membabi buta, padahal di bawah laut awak KS kita tertawa-tawa karena mereka tepat berada dibawah lunas fregat RAN. 
LO (Liaison Officer) dari ALRI yang ditempatkan di fregat RAN Letkol Laut (P) Saeran melihat komandan fregat RAN marah dan complain bahwa KS kita sebenarnya tidak ada disitu tapi sudah pulang ke pangkalan karena alat deteksi kapal RAN yang sudah canggih pada jaman itu tidak bisa menemukan KS kita di area yang cukup sempit itu. Tapi kemudian dijawab dengan perintah KS agar timbul kepermukaan dan dengan sekejap KRI Pasopati sudah muncul dekat fregat RAN ... Ketika balik kepangkalan dan berlayar dipermukaan masih terdengar "ping" dari sonar fregat RAN rupanya masih penasaran mereka...kenapa KS RI Pasopati bisa menghindari Sonar mereka.

  • Operasi Seroja

Ini cerita waktu Operasi Seroja, integrasi Timtim antara 26 Feb 1976 s/d 26 Mar 1976. Pada saat itu KS RI Pasopati sedang menyelam di pantai utara dekat kota Baucau, tiba - tiba ada laporan dari Juru Sonar ada suara baling-baling mendekat ke KS kita, untuk itu komandan kapal memerintahkan KS naik ke kedalaman periskop dan mengintip cakrawala, ternyata cakrawala bersih tanpa ada satu kapalpun disana.  
"Juru sonar, berapa baringan dan kecepatan?" tanya komandan. "Baringan 040 kecepatan 10 knots ... ndan" jawab juru sonar. Komandan mengecek lagi arah itu tidak terdapat kapal disitu. Komandan mengambil kesimpulan itu adalah KS asing yang mendekat. Untuk itu secara diam-diam peran tempur disiapkan di KS kita dan haluan kapal diubah menyongsong arah KS asing itu.

"Siapkan torpedo untuk ditembakkan" perintah komandan, tetapi tiba-tiba Juru sonar berkata
 "Baringan 000, suara menjauh, kecepatan 30 knots!"
Ternyata KS itu menjauh tidak mau berkonfrontasi dengan KS kita diperairan Timtim ... dari hasil analisa kemungkinan KS itu adalah KS USN milik Armada VII karena kecepatannya cukup tinggi 30 knots dan diketahui hanya mereka yang KS-nya bisa secepat itu pada masa itu...
 
  • Pernah bertemu di Pasifik?

Pada tahun 1978 saya diangkat menjadi Athan (Atase Pertahanan) RI untuk Iran yang
berkedudukan di Teheran, alkisah pada suatu resepsi kemiliteran saya dan isteri hadir sebagai undangan , dan begitu pula dengan Athan dari Negara lainnya, saya mengenakan dinner jacket lengkap beserta tanda jasa dan tak lupa brevet Hiu Kencana yang saya banggakan.
Tampak asyik berkumpul para Athan dari USSR, USA, Jepang, dan Belanda. Sayapun
bergabung dengan mereka. rupanya mathan USA matanya jeli menangkap kilatan brevet Hiu Kencana yang saya pakai, tampak dia mencolek Athan Belanda yang aku lupa namanya sebut saja si jan(yan),“yan, kau pernah bertemu santo di pasifik kan?”
Sudah menjadi kebiasaan orang barat bila sudah merasa dekat akan menyapa dengan nama panggilannya saja tanpa embel2 apapun, spontan saya menjawab
“ya , si yan pernah mengirim roti saat itu tapi rotinya gak sampai”.
Saya mengetahui itu karena saya mengetahui bahwa si yan adalah komandan kapal fregat Belanda yang menjatuhkan bom laut pada kami (RI Nagabanda) tapi tidak tepat sasaran, sedangkan kami harus terus menerus menyelam selama 36 jam, bahkan salah satu kelasi kami berkelakar pada saya, "tenang saja pak , komandan kapal diatas (fregat Belanda) itu teman komandan kita saat di Belanda”.
 Ya, memang komandan kapal kami adalah alumnus AAL (Akademi Angkatan Laut) nya belanda, tapi beda angkatan dengan komandan kapal fregat itu. Tidak dapat dipungkiri kehadiran kapal selam RI waktu itu terasa sebagai efek deterrence yang sangat hebat, apalagi 6 kapal selam yang baru dilengkapi torpedo SUT (homing torpedo) yang tercanggih di jamannya sudah di siagakan di lapis kedua atau lingkar dalam yang sewaktu - waktu dapat di perintahkan 
bergerak.
  • Armada VII USN

Dulu ada Armada VII USN (United State Navy) yang mau lewat selat Sunda tapi tanpa
permisi, pas kehadirannya sudah diketahui oleh gugus tempur selam di wilayah itu sekitar selat Sunda ... lalu diberi peringatan radio ... tapi tetap sombong dan acuh saja ... lalu setelah ada perintah dari pejabat berwenang yang tertinggi dalam hal ini ... dengan perintah 
..."Lakukanlah segala sesuatu yang menurut kalian adalah benar, demi menjaga kehormatan
 NKRI (Negara Kedaulatan Republik Indonesia), semuanya terserah kalian!"...

Lalu setelah beberapa saat kontak tidak ditanggapi ... KS RI melakukan jibaku (dengan
maksud untuk mendekati, mau mengawal biar tidak macam - macam, tetapi ternyata terjadi kepanikan di kapal induk Armada VII USN) ... pergerakan KS yg semakin mendekat kapal induk dan mematikan sinyal radio ... sangat menggentarkan mereka ...karena dipikirnya kapal induk akan ditubrukan secara frontal oleh KS RI tersebut ... pada detik - detik kritis kapal induk Armada VII berserta rombongan pengawalan berbalik arah putar haluan tidak jadi lewat selat Sunda tapi ambil arah ke Australia ... akhirnya semua crew KS RI berteriak "Hore ... kita
 menang ... Jalesveva Jaya Mahe...Jayalah Negeriku Indonesia Dilaut"!!!.

Memang benar ini adalah pengalaman mendebarkan dan membanggakan dengan manuver nekad 
anggota crew Hiu Kencana KS RI dengan berbaliknya Armada VII Amerika, maka kemenangan politis ada pada negara kita RI tercinta, setelah itu kalo tidak salah komandan crew mendapat anugrah bintang sakti!!! .

“ Sekali menyelam, maju terus – tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah
 Sampai Akhir “ Bagian pidato Presiden Soekarno di atas kapal selam RI Tjandrasa pada 
6 Oktober 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta.
Mereka bertugas dalam senyap jauh dari publikasi … Wira Ananta RudhiroTabah Sampai 
Akhir… !
Read full post »

Senin, 04 Maret 2013

Tionghoa Yang Nasionalis

0 komentar

Kwik Kian Gie (74 tahun) atau 郭建義  (mandarin: Guo Jianyi)  merupakan pria keturunan Tionghoa yang lahir di Pati -
Kwik Kian Gie
Kwik Kian Gie
Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Ia seorang ahli ekonomi sekaligus politikus yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Keteguhan pada nilai-nilai kebenaran dan nasionalisme serta selalu mengkritik hal yang salah, membuat Kwik Kian Gie tidak disukai mereka-mereka yang ‘salah langkah’.
Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, Kwik melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian tahun 1956, Kwik melanjutkan studi Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam Belanda(1956-1963). Jiwa pengabdiannya pada negeri ini telah diwujudkan sesaat setelah Kwik lulus dari kuliahnya. Tahun 1963-1964 Kwik bekerja sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan pada Kedutaan Besar RI di Den Haag. Setahun kemudian menjadi Direktur Nederlands Indonesische Geoderen Associatie (1964-1965). Lima tahun selanjutnya menjadi Direktur NV handelsonderneming “Ipilo Amsterdam”.
Tahun 1970, di usianya ke-35, Kwik kembali ke tanah air. Selama setahun ia sempat menganggur. Dan di tahun 1971, Kwik terjun ke dunia bisnis dan mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company. Kepiawaianya dalam ekonomi bisnis, mendapat kepercayaan berbagai perusahaan memintanya menjadi pimpinan perusahaan. Pada tahun 1978, tercatat ada minimal 3 perusahaan yang dipimpin Kwik yakni sebagai Direktur sekaligus Pemegang saham PT Altron Panorama Electronic,  Dirut PT Jasa Dharma Utama, dan  Komisaris PT Cengkih Zanzibar.
Mulai tahun 1985 (24 tahun silam), Kwik telah menulis ide kreatif mengenai ekonomi di Harian Kompas demi mengedukasi persfektif masyarakat. Setelah cukup mapan (sudah kaya), pada usia 42 tahun Kwik resmi terjun ke dunia pendidikan dan pengamat ekonomi. Secara bertahap Kwik mulia meninggalkan dunia bisnis. Di bidang pendidikan, tahun 1987 bersama Djoenaedi Joesoef dari Konimex dan Kaharudin Ongko dari Bank Umum Nasional, Kwik mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBiI). Kwik pun dipercayai menjabat sebagai Ketua Dewan Direktur sejak pendiriannya.
Petualangan sebagai pengamat ekonomi Indonesia yang melihat dan mengamati langsung sistem pemerintah yang begitu korup dan sarat KKN serta otoriter di era Soeharto ‘memaksa’ Kwik harus terjun ke dunia politik. Berbekal pengalaman dan tulisan-tulisan beliau yang sangat populer di Kompas, Kwik terjun ke dunia politik bukan karena uang, melainkan ingin merubah Indonesia yang lebih baik. Ia rela melepas dunia bisnisnya : “Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan,” katanya suatu kali kepada Matra. Kondisi ini sangatlah ironis dengan maraknya para politisi baru saat ini yang menjadi caleg/pilkada hanya lebih untuk meraup uang  negara dan meningkatkan prestise.Kwik terjun ke dunia politik setelah dirinya mapan, dan ia konsisten memperjuangkan ilmunya (ekonomi dan pendidikan) untuk bangsa Indonesia…. Kembali sangat ironis…saat ini banyak yang menjadi caleg dengan hanya  berlatar belakang ‘popularitas tampang/wajah’.
Sumbangsih Politik Kwik
Perjuangan politik Kwik dimulai dengan bergabung dengan PDI pro Megawati [hanya ada Golkar yang berkuasa, PPP dan PDI]. Meskipun terjun ke dunia politik, namun Kwik konsisten dengan ilmu, sikap dan pengalamannya.  Di PDI, Kwik menjabat sebagai salah satu Ketua DPP sekaligus tim Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PDI. Meskipun kemudian Mega disingkirkan oleh pemerintah dari PDI pada Juni 1996, ia tetap konsisten membela dan mendukung Mega. Menurut Kwik, kemanusiaan Mega sangat tinggi. “Kemanusiaannya besar sekali, sehingga Mega tidak bisa melihat darah mengalir, kerusuhan atau kematian. Dia terus menerus berpesan agar anggota PDI menjaga diri dan menghindari kerusuhan,” katanya suatu kali.
Ia menambahkan, bahwa Mega itu manusia yang mirip Bung Karno, “dan logisnya luar biasa“. Ia hidup untuk melayani orang lain. Itu tak lain karena Mega dilahirkan dalam keadaan untuk melayani orang lain. “Jadi kalau dia peduli terhadap kehidupan bangsa ini, itu bukan dibuat-buat, bukan agar dia menjadi orang berpangkat atau orang penting,” tambah Kwik. Rasa sikap hormat Kwik pada Mega ketika itu memang wajar, karena dia berhubungan dan bertukar pikiran langsung dengan Megawati. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak mengatakan bahwa Megawati mempunyai segala kwalitas sebagai Presiden R.I., tetapi jelas mempunyai banyak kwalitas yang krusial sebagai panutan. [estetic quotient]
Apa itu? Moral yang tinggi, integritas yang tinggi, tidak munafik, berani membela kebenaran, keadilan dan demokrasi tanpa memikirkan sedikitpun apa resiko untuk dirinya. [petualangan Kwik bersama PDI hingga kasus 27 Juli 96 ]. Mengapa saya mengatakan bahwa sifat-sifat dan karakter seperti ini adalah krusial untuk dijadikan panutan? Karena semua malapetaka yang sedang kita hadapi kalau ditelusuri sampai pada akar-akarnya, penyebabnya adalah moralitas yang rendah, tiadanya integritas, berkecamuknya KKN, kepalsuan, kemunafikan dan kepura-puraan.
Keteguhan Kwik pada Mega yang tersingkirkan oleh pemerintah, akhirnya berbuah manis. Setelah era orba jatuh dan dibarengin lahirnya reformasi, Megawati bersama PDI Perjuangan memenangi Pemilu 1999. Selama setahun kwik menjadi Anggota MPR/DPR-RI sekaligus menjadi Wakil Ketua MPR-RI. Gus Dur pun lihai melihat talenta dan semangat Kwik, maka iapun diangkat menjadiMenko Ekuin (1999-2000). Meskipun suara ‘kata reformasi’ berkumandang keras di negeri ini, namun masih banyak anggota Kabinet dan oknum pemerintah pada saat itu yang masih bermental kompeni, bermental asing, bermental korporasi, bermental korupsi,dan tentu saja Kwik sangat menentang itu. Apa daya mau dikata, hasrat Kwik untuk membersihkan kabinet kotor akhirnya diserang oleh orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu. Maka berbagai isu miring dilontarkan pada pribadi Kwik. Dan berbagai desakan politik  busuk saat itu dan diiringi tudingan miring, akhirnya Gus Dur terpaksa memberhentikan Kwik sebagai Menko Ekuin. Dengan dilematis, Kwik mengundurkan diri dari Menko Ekuin pada tahun 2000.
Ketika terjadi pergolakan politik antara MPR (Amien Rais) dan Presiden (Gusdur) yang berakhirnya berhentinya Gus Dur dari kursi Presiden dan diangkatnya Megawati sebagai Presiden ke-5 RI, Kwik kembali diangkat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Men. PPN) merangkap Ketua Bappenas pada Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).
Pergulatan Politik
Meskipun Kwik Kian Gie sudah ‘nyaman’ dalam posisi eksekuitf tinggi di negeri ini sebagai Menko Ekuin,  Men. PPN serta Kepala Bappenas, Kwik tidak berhenti mengambil keputusan saja sebagai menteri. Ia masih bersikap sebagai pengamat yakni sering melontar pendapat yang berbeda dari kebijaksanaan yang diputuskan kabinet atau pemerintah. Ketika suaranya tidak didengar di Kabinet atau tidak diundang pada sidang Kabinet yang penting, Kwik tidak segan-segan menegur dan mengkritisi menteri seposisinya bahkan seorang atasannya, Presiden Megawati. Tidaklah heran jika sekelompok menteri, segrup pengusaha, segerombolan negara kapitalis benci sama pendirian Kwik.
Akibatnya, tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong yang pada mulanya disebut The Dream Team itu menjadi terkesan amburadul. Tidak ada kordinasi. Ada yang berpendapat bahwa Menko Ekuin Dorodjatun Kuntjoro Jakti tidak mampu memimpin timnya. Tapi sebagian lagi menyatakan bahwa Kwik lebih baik mengundurkan diri dan kembali kehabitatnya sebagai pengamat. Kegaduhan tim ekonomi ini dimanfaatkan pula oleh kalangan politisi dan aktivis politik sebagai pintu masuk menyoroti lemahnya kepemimpinan Presiden Megawati. Ada juga yang memanfatkannya dengan menyarankan dilakukannya reshuffle kabinet sesegera mungkin.
Tapi Megawati tampaknya telah belajar dari ringan tangannya Gus Dur mengganti menterinya. Sehingga selamatlah Kwik dan tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong lainnya dari pemberhentian. Kwik sendiri sudah mengalami pergantian dengan ‘dipaksa’ mundurnya dia dari jabatan Menko Ekuin oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ia ‘dipaksa’ mundur setelah ia dibuat frustrasi seperti ditulis Suara Pembaruan edisi Jumat (11/8 ) mengutip sumbernya, “Pak Kwik sering tidak tahan menghadapi ulah para menteri, utamanya yang dekat dengan Presiden, karena mereka tidak pernah mau datang ke rapat-rapat koordinasi.” Mereka juga menilai bahwa Kwik lebih pas sebagai pengamat ketimbang jadi eksekutif, pengambil keputusan. Hal yang sama hampir saja terjadi jika Kwik bukan kader PDIP dan jika Presiden Megawati menuruti keinginan para politisi dan pengamat. Hari ini mungkin Kwik tidak lagi sebagai eksekutif tapi sudah berkonsentrasi sebagai pengamat, dunia yang sangat dijiwainya.
Kwik Kian Gie yang Tidak Lupa Diri
Meskipun Kwik menjabat Menteri di Kabinet Megawati, hal ini tidak membuat Kwik hanya menikmati jabatannya. Pada tanggal 7-8 November 2001, Pak Kwik menyampaikan pidato yang sangat menusuk bagi CGI maupun pejabat-pejabat saat ini maupun tempo dulu. Sebagai Men. PPN dan kepala Bappenas, pidato Kwik mempunyai makna yang besar bagi bagi penyelenggaraan negara dan perekonomian kita, terutama bagi kehidupan moral bangsa kita, dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dewasa ini.
Dalam pembukaan pidatonya yang berjudul “Effective use of foreign aid” itu, ia menyatakan rasa malunya bahwa sebagai pejabat pemerintahnya ia terpaksa menjalankan tugas, yang pada intinya adalah untuk mengemis tentang persoalan utang, atas nama bangsa. Pernyataan Kwik sekaligus menyentil lembaga keuangan dunia yang selama ini ‘menjerumuskan’ Indonesia dengan utang. Persoalannya sederhana, lembaga keuangan dunia  tahu pasti bahwa sebagian utanngya, tidak kurang 30% dikorupsi, yang seharusnya bertentangan dengan syarat dari sebuah lembaga keuangan untuk memberikan pinjamannya. [skenario tingkat tinggi].
Yang juga amat menarik (dan amat penting) yalah ketika ia mengungkapkan bahwa ia sudah sering mengatakan hal-hal itu semua, dan bahwa ia telah ditegur oleh para ekonomis senior, yang di masa lalu telah, dan sekarang, masih memainkan peran penting dalam pengurusan ekonomi negeri kita, yang menganjurkan supaya ia tidak lagi memandang ke belakang saja dan supaya mulai melihat ke hari depan. Tetapi, katanya, ia tidak mau mendengarkan nasehat semacam itu,apalagi yang berasal dari para ekonomis yang telah mempunyai peran besar dalam menjadikan Indonesia menjadi bangsa pengemis.
Ekspresi yang digunakan Menteri Kwik Kian Gie adalah keras, atau tidak tanggung-tanggung!. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa para ekonomis yang itu-itu jugalah yang telah melakukan mis-management dalam soal utang luarnegeri kita dan menggiring negeri kita ke dalam kesulitan-kesulitan kita dewasa ini. Oleh karena itu, ia berpendirian bahwa perlu sekali sering memandang ke belakang untuk mengetahui apa-apa saja yang menjadi sumber-sumber kesulitan atau sebab-sebab kesalahan itu. Adalah tidak fair dan tidak adil, katanya, bahwa mereka yang telah membikin kesalahan-kesalahan itu sekarang bisa memegang kekuasaan dan berusaha untuk menguburkan masa lalu. Mereka inilah yang menghalang-halangi orang-orang yang jujur dan memiliki kemauan baik untuk mengobati sebab dan akibat korupsi dan mis-management masa lalu, tegasnya.
Mengenai utang dalam negeri, yang sekarang sudah mencapai Rp650 trilyun, ia mengatakan bahwa ia dikritik karena telah terlalu banyak bicara tentang akibat-akibatnya. Menurutnya, kritik-kritik itu diucapkan oleh orang-orang yang ingin menutup-nutupi dan mengubur begitu saja ketidakadilan yang terjadi di masa lalu. Kritik-kritik ini datang dari para birokrat yang itu-itu juga yang telah membolehkan para pemilik bank untuk berulangkali melanggar batas-batas legal peminjaman uang, menyalurkan jumlah-jumlah besar uang para penyimpan uang ke dalam perusahaan mereka sendiri dengan cara peminjaman yang di mark-up. Kenyataan ini terlalu menyolok.
Tentang utang pemerintah, ungkapan Kwik Kian Gie di depan sidang internasional ini juga sangat pedas dan dengan bahasa yang polos pula ketika ia mengatakan : “Apakah utang-utang itu juga dikorupsi, sehingga kita tidak bisa membayarnya kembali, walaupun kita terus mengeduk satu lobang untuk menutupi lainnya? Bagi saya, jawabannya adalah jelas sekali. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia yang memiliki prestise tinggi, dan karenanya adalah guru yang amat terhormat bagi birokrat-birokrat yang berkuasa, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri. Ini berarti bahwa paling tidak 30% pinjaman dari Anda sekalian telah dicuri”, katanya kepada para wakil negara donor dan badan-badan internasional yang hadir dalam sidang CGI itu.
Dan selama menjadi menteri, jelas Kwik Kian Gie menolak kehadiran IMF di bumi Indonesia. Kwik Kian Gie menyentil para ekonom senior yang telah merusak ekonomi Indonesia dengan memasukkan ratusan miliar dollar utang dengan sedikitnya 30% dikorup selama lebih 32 tahun. Dan pola ini pun sempat dan masih terjadi setelah reformasi.  Indonesia pengemis telah kalah dengan Malaysia yang telah lama mandiri dari Word Bank dan IMF. Dan Kwik Kian Gie kerap kali menekankan bahwa untuk mengubah Indonesia yang lebih baik, maka dibutuhkan obat sekaligus dokter-dokter yang secara serius menyembuhkan penyakit korupsi yang merajalela, utang dalam dan luarnegeri yang menumpuk, mis-management dalam penyelenggaraan perekonomian, dan kerusakan moral. Keempat hal inilah yang menyebabkan Indonesia diujung tanduk. [obat:konstitusi,  dokter:pemimpin]
Kekecewaan Kwik Kian Gie?
Mungkin [berdasarkan pengamatan saya/penulis] ada banyak hal yang masih Kwik kecewa ketika menjadi menteri. Selain Kwik sangat menentang penjualan BUMN strategsi yang dilancarkan oleh eks Men. BUMN Laksamana Sukardi bersama Kabinet Megawati (kecuali Kwik dan hanya beberapa menteri lain). Mungkin sampai saat ini Kwik masih kecewa dengan alasan Laksamana Sukardi yang mengobral BUMN dengan alasan tidak masuk akal. Terutama  penjualan BCA ke Farallon.
Satu hari sebelum penandatanganan penjualan BCA kepada Farallon terjadi sidang kabinet terbatas tidak resmi selama tiga jam. Perdebatan sangat sengit. Sebelum tuntas, pada jam 18.00Menko Dorodjatun menghentikan rapat, mengajak Meneg BUMN Laksamana Sukardi melapor kepada Presiden Megawati bahwa penandatanganan penjualan keesokan harinya dapat dilakukan. Dalam rapat tersebut hanya Kwik Kian Gie yang menentang sangat keras. Yang lainnya menyetujui.
Pemerintah yang masih lembek ditambah oknum-oknum menteri yang tidak bertanggung jawab menjual Bank-bank milik pemerintah Indonesia yang di dalamnya ada surat tagihan kepada pemerintah (atau dirinya sendiri) dijual dengan harga murah kepada swasta, antaranya banyak swasta asing. Contoh yang paling fenomenal tentang ketidak warasannya kebijakan pemerintahdalam bidang ini adalah penjualan BCA 97% dari BCA sudah milik pemerintah. Di dalamnya adaOR atau surat utang pemerintah sebesar Rp 60 trilyun. IMF memaksa menjualnya kepada swasta dengan harga yang ekuivalen dengan Rp 10 trilyun. Jadi BCA harus dijual dengan harga Rp 10 trilyun, dan yang memiliki BCA dengan harga itu serta merta mempunyai tagihan kepada pemerintah sebesar Rp 60 trilyun dalam bentuk OR yang dapat dijual kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. (Sumber : Kwik Kian Gie : Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967 – artikel 4)) Jadi transaksi BCA oleh Laksamana Sukardi CS  dibawah bisikan IMF telah merugikan negara hingga Rp 50 triliun..
Pada tanggal 13 Maret 2002, sehari sebelum bank BCA dijual Farallon Capital Partners  bersama Djarum [14 Maret 2002] , rapat kabinet yang dipimpin oleh Megawati sebenarya tidak mengagendakan penjualan BCA. Agenda rapat penjualan BCA baru muncul siang hari setelah rapat kabinet, ketika para menteri ekonomi berinisiatif mengadakan rapat terbatas di Gedung Departemen Kesehatan di Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said, Jakarta.Di rapat itu Kwik Kian Gie yang menjadi Kepala Bappenas berdebat dengan Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjorojakti, Meneg BUMN Laksamana Sukardi dan Menkeu Boediono. Tiga menteri itu menyetujui agar BCA segera dijual sementara Kwik tidak setuju. Alasan Kwik kalau BCA harus dijual, maka obligasi rekap pemerintah di BCA harus terlebih dulu dikeluarkan. Hal itu penting, karena dalam pandangan Kwik, semua obligasi itu hanya digunakan sebagai instrumen bukan obligasi yang sebenarnya. Obligasi rekap adalah salah satu klausul letter of intent yang disodorkan oleh Dana Moneter Internasional, IMF kepada Indonesia. Namun rupanya setelah bank-bank itu sudah sehat dan bebas dari kredit macet, IMF mendesak bank-bank yang sudah sehat itu termasuk BCA harus dijual bersama obligasinya.
Dampaknya adalah pada besarnya beban utang pemerintah, baik utang luar negeri maupun dalam negeri untuk tahun anggaran 2006 sebesar Rp 140,22 trilyun, yaitu beban bunga sebesar Rp 76,63 trilyun dan cicilan utang pokoknya sebesar Rp 63,59 trilyun. Jumlah ini pengeluaran terbesar setelah keseluruhan pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik rutin maupun pembangunan.
Disamping itu, banyaknya andil yang diperankan oleh sekelompok elit yang menyetir PDIP membuat Kwik dalam acara The Candidate menanggapi dengan mengatakan, “saya sudah tidak aktif lagi di PDIP ketika ‘PDIP’ sudah berubah”.  Yah….publik tahu siapa saja yang mempengaruhi PDI-P dan mempengaruhi Mega, salah satunya Mas Taufik Kiemas.
Seorang Kwik pun Tidak Ditanggapi oleh Pemerintah, apalagi Kita.
Dalam salah satu forum diskusi di koraninternet , seorang berkomentar (inisial Dewo) dan menanyakan mengapa Kwik baru berkomentar tentang masalah-masalah bangsa, padahal sejak dulu Pak Kwik mengerti hal-hal yang mengenai solusi atas bobroknya ekonomi di tangan pemerintah.
Kenapa baru sekarang Bapak berkomentar, padahal sudah sejak dulu Bapak mengerti masalah ini.
Pada saat Bapak duduk di pemerintahan mengapa tidak mambantu rakyat untuk menyelami hal ini mungkin dengan membuat tuisan2 seperti ini atau berteriak lantang kepada para pemimpin kita saat itu.
Kalau sekarang Bapak baru mengirimkan opini kita sudah sangat terlambat karena kita sama2 orang sipil yg tidak akan pernah ada harganya di mata pemerintah.
Kalau memang Bapak ingin membantu kami, sudi kiranya Bapak bekerja sama dengan salah satu stasiun televisi swasta untuk meminta penjelasan dari perwakilan pemerintah atau minta disediakan spot khusus pada jam tertentu di acara televisi.
Jadi saran saya tolong berikan sesuatu yang konkrit kepada masyarakat kita. Karena Anda adalah pakar ekonomi yg mengerti sekali dan saya anggap cerdas serta kritis.
Terima kasih dan hormat saya,
Dewo (20 Jan 2009)
Jawaban Pak Kwik (tanpa di edit) tertanggal 23 Jan 2009
Sejak tahun 1980 saya sudah mengemukakan pendapat-pendapat seperti yang tercantum dalam artikel di KoranInternet ini tentang kebijakan BBM, dan terutama dengan apa yang dinamakan “subsidi”.
Sejak sekitar 12 tahun yang lalu juga saya banyak menulis tentang hal yang sama dalam berbagai media massa yang jumlah artikelnya tidak kurang dari 14.
Ketika dalam kabinet selalu mengemukakan hal yang sama dalam sidang-sidang kabinet. Karena itu, ada tekanan sangat besar pada Presiden Abdurrachman Wahid untuk memecat saya sebagai Menko EKUIN. Selama dalam Komisi IX DPR RI juga selalu saya kemukakan. Kemudian sebagai Menteri dan Kepala Bappenas yang ex officio Komisaris Pertamina ketika masih berbentuk Perum juga saya kemukakan.
Kesemuanya tidak pernah ditanggapi. Karena itu saya sebagai Menko EKUIN minta melihat dan mempelajari semua pembukuan Pertamina dan pembukuan di Departemen Keuangan yang ada hubungannya dengan minyak dan BBM. Semuanya ditolak dengan alasan bahwa sudah merupakan tradisi yang boleh hanya Presiden dan Menteri Keuangan.
Dalam tahun 2008, kecuali menulis sangat banyak artikel dan memberikan paparan-paparan dalam berbagai seminar juga saya kemukakan. Saya diundang oleh Panitia Angket BBM di DPR RI, dan telah memberikan kesaksian di bawah sumpah dengan pikiran-pikiran dan perhitungan-perhitungan yang sama. Dalam tahun 2008 itu juga saya diundang oleh MM Manajemen UI memberikan paparan di aula FE UI dengan pembicara-pembicara lainnya Dirut Pertamina Arie Sumarno dan Dekan FE UI, Prof. Bambang Bodjonegoro.
Semuanya tidak dihiraukan. Kalau Anda berkenan, saya dapat memberikan bagian besar dari pikiran-pikiran tersebut kepada anda melalui e-mail.
Banyak terima kasih.
Kwik Kian Gie

Begitulah kisah singkat perjuangan Kwik. Saya mulai mengagumi beliau sejak akhir 2007 ketika saya membaca buku John Perkins dan melihat kesamaan pemikiran dan pergerakan yang pak Kwik tawarkan,  seorang Tionghoa namun sangat nasionais dan cinta pada negeri ini. Di masa tuanya (74 tahun) ia tetap berusaha menuangkan ide-ide demi mengedukasi masyarakat agar mata saudara-saudara di negeri terbuka lebar.  Hentikan pembodohan oleh aparat pemerintah. Hentikan kebijakan yang membuat masyarakat menjadi kelas nomor ke-5 setelah kepentingan pengusaha, asing, politik dan kepentingan penguasaha. Ciptakan budaya berdirikari, dan tingkatkan moralitas bangsa.
Beberapa tulisan beliau membuat saya meneteskan air mata, karena masih ada orang tua seperti beliau yang mau berbagi ilmu pengetahuan dengan gratis. Dan saya yakin bahwa walaupun suara dan tulisan Pak Kwik tidak didengar oleh pemerintah saat ini, namun secara tidak langsung, pak Kwik telah memberikan harta karun terbesar buat saya dan buat sebagian rakyat yang merasakan ‘embun-embun’ pencerahan untuk berbakti pada negara dan rakyatnya.
Dan satu hal yang menarik ketika Kwik tampil di The Candidate, ketika Fifi Alayda Yahya menanyakan ‘apakah Bapak akan maju sebagai Capres 2009″. Kwik dengan tegas mengatakan“Tidak“. Lalu, Fifi menanyakan kembali, ‘Apakah dalam pikiran pak Kwik terlintas ingin menjadi Presiden?”. Sekali lagi pak Kwik menjawab, “Tidak sama sekali“. Beliau hanya berharap dapat menjadi penasehat presiden (wantimpres) dalam bidang ekonomi. Bukan kekuasaan yang ia incar, namun kontribusi yang tepat sasaran. Toh….beliau memang lebih tepat menjadi penasehat ekonomi asalkan Presiden 2009 adalah presiden yang ‘benar’. Benar artinya bukan bermental kompeni, liberal-kapitalis, pengemis utang luar negeri dan dalam negeri, dan hanya menjadi bangsa penonton (Blok Cepu, UU Migas, mendewakan kedatangan Bush dengan meng-jump sinyal HP di Bogor, obral BUMN : Indosat, Telkom + 38 daftar BUMN yang akan diobral 2008-2009 ).
Saya berharap, semoga harapan Pak Kwik ini terealisasi dan pemimpin 2009 ini adalah pemimpin yang didambakan oleh Kwik. [FYI : Kwik sendiri tidak merekomendasi Mega sebagai Capres. Kwik juga sangat mengkritisi pembingungan yang dilakukan pemerintah incumbent]. Disamping itu, saya pun mulai menulis  dan mencoba mengikuti jejak langkah beliau. Walaupun saya tidak bertemu beliau secara langsung, tetapi saya merasakan getaran nasionalis dan ketulusan beliau untuk mewujudkan Indonesia baru sesuai dengan cita-cita para founding father bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 (sebelum amandemen). Meskipun suara dan pemikiran Anda tidak ditanggapi penguasa saat ini, namun saya yakin ‘suara dan pemikiran’ Bapak kini sedang bersemai di ladang pemikiran kami. Kelak benih-benih yang Pak Kwik taburkan dapat tumbuh, berkembang dan menular kepada generasi kami. Semoga Kwik-Kwik baru muncul bertebaran di negeri ini, dan penguasa akhirnya mendengar konsepsi-mu.
Terima kasih pak Kwik…………Lanjutkan perjuanganmu..

*Disusun dari berbagai sumber:
http://www.koraninternet.com
http://www.tokohindonesia.com; 
http://www.id.wikipedia.org;  
http://kontak.club.fr
Milis-milis dan pendapat penulis sendiri
Read full post »

Minggu, 17 Februari 2013

Putra Kawangkoan Bersenjatakan Kamera

0 komentar

Suatu pagi di bulan puasa, 17 Agustus 1945. Frans Sumarto Mendur mendengar kabar dari sumber di harian Asia Raya bahwa ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei, mendengar kabar serupa. Kedua Mendur Bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno.
Kendati Jepang telah mengaku kalah pada Sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap. Dengan mengendap-endap, Mendur Bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta tatkala jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Pukul 8, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi dan bangun pukul 9.
Frans Mendur/IPPHOS
Latief Hendraningrat, anggota Pembela Tanah Air (PETA), mengibarkan bendera Merah Putih usai Soekarno-Hatta bacakan naskah proklamasi di Jakarta, 17 Agustus 1945. Foto oleh: Frans Mendur/IPPHOS
Di Jakarta, pukul 10 di hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur Bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia.
Frans berhasil mengabadikan tiga foto, dari tiga frame film yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.
Usai upacara, Mendur Bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang memburu mereka. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang menyita foto-foto yang baru saja dibuat dan memusnahkannya.
Adiknya, Frans Mendur berhasil meloloskan diri. Negatif foto dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Tentara Jepang mendatanginya, tapi Frans mengaku negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor.
Frans Mendoer/IPPHOS
Suasana upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945. Foto oleh: Frans Mendoer/IPPHOS
Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci dan mencetak foto itupun tak mudah. Mendur Bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, panjat pohon dan lompati pagar di sampaing kantor Domei, yang sekarang kantor Antara. Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Resiko bagi Mendur Bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.
Mendur Bersaudara Dengan Foto Peristiwa Bung Karno Detik-detik Proklamasi


Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945. Tanpa foto karena telah disensor Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan, pada bulan September 1945, fotografer-fotografer muda Indonesia bekas fotografer Domei di Jakarta dan Surabaya mendirikan biro foto di kantor berita Antara. Tanggal 1 Oktober 1945 BM Diah dan wartawan-wartawan eks harian Asia Raya merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka. Alex Mendur pun pindah ke Harian Merdeka. Foto bersejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia karya Frans Mendur tersebut baru bisa dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946 di halaman muka Harian Merdeka.
Setahun setelah kepindahan ke harian Merdeka, kakak-beradik Frans dan Alex Mendur menggagas pendirian Indonesia Press Photo Service, disingkat IPPHOS. Turut mendirikan biro foto pertama Indonesia tersebut, kakak-beradik Justus dan Frank “Nyong” Umbas, Alex Mamusung dan Oscar Ganda. IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta sejak berdiri 2 Oktober 1946 hingga 30 tahun kemudian.
Koleksi foto IPPHOS pada kurun waktu 1945-1949 konon berjumlah 22.700 bingkai foto. Namun hanya 1 persen saja yang terpublikasikan. Foto-foto IPPHOS tak hanya dokumentasi pejabat-pejabat negara, melainkan juga rekaman otentik kehidupan masyarakat di masa itu.
Keluarga Mendur adalah putra daerah Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir 1907, sementara adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Frans belajar fotografi pada Alex yang sudah lebih dahulu menjadi wartawan Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans lantas mengikuti jejak abangnya menjadi wartawan pada tahun 1935.
Foto monumental lain karya Alex Mendur adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945, dan tapi sering dianggap terjadi di hotel Oranje, Surabaya. Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soeharto yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.
Kala itu nama Mendur Bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing. Tapi Mendur Bersaudara dan IPPHOS tetap idealis untuk loyal kepada Indonesia. Padahal, secara etnis Minahasa, sebenarnya Mendur Bersaudara bisa saja dengan mudah merapat ke Belanda. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi Mendur Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja untuk media asing.
Monumen Mendur Bersaudara Di Kawangkoan


Semasa hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya. Di RS Sumber Waras Jakarta pada tanggal 24 April 1971, fotografer pengabadi proklamasi kemerdekaan RI ini meninggal dalam sepi. Alex Mendur tutup usia pada tahun 1984 juga dalam keadaan serupa. Keduanya nanti diberikan penghargaan disaat mereka berdua telah tiada yakni pada puncak perayaan Hari Pers Nasional di Manado tahun 2013.
Saya Diantara Karya Mendur (Pameran HPN)




* sumber : kompasiana
Read full post »

Rabu, 06 Februari 2013

Asal-usul Pancasila

0 komentar



Pohon sukun itu, yang berdiri kokoh di atas bukit, menghadap kelaut. Di situlah, pada tahun 1934 hingga 1938, Soekarno banyak merenung. Beberapa saksi sejarah menuturkan, salah satu hasil perenungan Bung Karno di bawah pohon sukun itu adalah Pancasila.
Pohon sukun itu kemudian diberi nama “pohon Pancasila”. Lalu, lapangan—dulunya bukit—tempat sukun itu berdiri di beri nama “Lapangan Pancasila”. Di Ende, sebuah kota indah di Pulau Flores, Soekarno menjahit ide-ide besarnya mengenai Indonesia masa depan, termasuk ideologi Pancasila.
Akan tetapi, kita belum tahu seberapa besar pengaruh pengalaman Soekarno di Ende dalam perumusan Pancasila. Fakta-fakta soal ini masih sangat minim. Yuke Ardhiati, seorang arsitek yang penelitiannya sempat menyinggung soal ini, mengatakan, pemikiran Soekarno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, katanya, Soekarno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara.
Dalam buku otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno mengatakan: “Di pulau Bunga yang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenungkan di bawah pohon kayu. Ketika itu datang ilham yang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.”
Dengan demikian, banyak yang menyebut Ende sebagai tempat “penyusunan gagasan-gagasan Pancasila”. Setelah itu, seiring dengan proses di Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, BPUPKI), Soekarno makin mematangkan gagasan tersebut.
BPUPKI resmi dibentuk tanggal 29 April 1945. Badan ini, yang beranggotakan 63 orang, memulai sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945. Nah, di sini ada kontroversi: ada yang menyebut Mohammad Yamin menyampaikan pidato tanggal 29 Mei 1945 dan isi pidatonya sama persis dengan Pancasila sekarang ini.
Dalam pidatonya Yamin mengusulkan 5 azas: peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ke Tuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.
Karena itu, banyak orang yang menyebut Muhamad Yamin sebagai penemu Pancasila. BJ Boland dalam bukunya, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, secara terang-terangan menyebut Muh Yamin sebagai penemu Pancasila, bukan Bung Karno.
Tesis ini makin diperkuat di jaman Orde Baru. Ini juga dalam kerangka de-soekarnoisme. Nugroho Notosusanto, salah seorang ideolog orde baru, banyak menulis tentang sejarah kelahiran Pancasila dengan mengabaikan sama sekali peranan Soekarno.
Dengan penelitian yang sudah bisa ditebak hasilnya, Nugroho Notosusanto menyimpulkan bahwa penemu Pancasila bukanlah Soekarno, melainkan Mohammad Yamin dan Soepomo. Itu menjadi pegangan dalam buku-buku penataran P4 dan buku-buku sejarah Orde Baru.
Nugroho Notosusanto, seorang yang anti-marxisme, menuding sila kedua Pancasila  versi Bung Karno, yaitu Peri Kemanusiaan/Internationalisme, sangat identik dengan semangat internasionalisme kaum komunis.
Suatu hari, ketika Bung Hatta memberi ceramah di Makassar, seorang mahasiswa mengeritik Bung Hatta karena menyebut Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Si mahasiswa itu, entah dicekoki oleh kesimpulan Nugroho Notosusanto, menyebut Mohammad Yamin sebagai penemu Pancasila. Hatta pun bertanya dari mana mahasiswa tahu? Dijawab oleh sang mahasiswa, “Dari buku Yamin”. Hatta segera mengatakan, “Buku itu tak benar!”
Rupanya, menurut versi Bung Hatta, Mohamad Yamin tidak berpidato tentang 5 azas itu pada 29 Mei 1945. Pidato itu, kata Bung Hatta—yang saat itu anggota BPUPKI dan panitia kecil—mengingat Pidato Yamin itu disampaikan di Panitia Kecil.
Menurut Bung Hatta, yang saat itu juga anggota BPUPKI, penemu Pancasila itu adalah Bung Karno. Saat itu, kata Bung Hatta, di kalangan anggota BPUPKI muncul pertanyaan: Negara Indonesia Merdeka” yang kita bangun itu, apa dasarnya? Kebanyakan anggota BPUPKI tidak mau menjawab pertanyaan itu karena takut terjebak dalam perdebatan filosofis berkepanjangan.
Akan tetapi, pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menjawab pertanyaan itu melalui pidato berdurasi 1 jam. Pidato itu mendapat tepuk-tangan riuh dari anggota BPUPKI. Sesudah itu, dibentuklah panitia kecil beranggotakan 9 orang untuk merumuskan Pancasila sesuai pidato Soekarno. Panitia kecil itu menunjuk 9 orang: Soekarno, Hatta, Yamin, Soebardjo, Maramis, Wahid Hasyim, Abikusno Tjokrosuyoso, dan Abdul Kahar Muzakkir.
Panitia kecil inilah yang mengubah susunan lima sila itu dan meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa di bagian pertama. Pada tanggal 22 Juni 1945 pembaruan rumusan Panitia 9 itu diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha–Usaha Kemerdekaan Indonesia dan diberi nama “Piagam Jakarta”.
Pada 18 Agustus 1945, saat penyusunan Undang-Undang Dasar, Piagam Jakarta itu mengalami sedikit perubahan: pencoretan 7 kata di belakang Ketuhanan, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat islam kepada penduduknya.” Begitulah, Pancasila masuk dalam pembukaan UUD 1945.
Apa yang dikatakan Bung Hatta mirip dengan penuturan Bung Karno. Dalam Buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, Bung Karno mengatakan, selama tiga hari sidang pertama terjadi perbedaan pendapat. Artinya, jika sidang dimulai tanggal 29 Mei 1945, maka hingga tanggal 31 Mei belum ada kesepakatan.
Terkait tanggal 29 Mei itu, seorang pakar UI, Ananda B Kusuma, menemukan Pringgodigdo Archief. Dokumen ini cukup penting, sebab memuat catatan-catatan tentang sidang itu. Menurut dokumen itu, orang-orang yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 itu: MRM. Yamin (20 menit), Tn. Soemitro (5 menit), Tn. Margono (20 menit), Tn. Sanusi (45 menit), Tn. Sosro diningrat (5 menit), Tn. Wiranatakusumah (15 menit).
Sidang itu diberi alokasi waktu 130 menit. Akan tetapi, yang cukup aneh, Yamin disebut berpidato 120 menit. Padahal, saat itu ada lima pembicara lain yang juga harus menyampaikan pidatonya.
G. Moedjanto, seorang sejarahwan, juga menemukan kejanggalan pada pidato Yamin—yang disebut tanggal 29 Mei 1945 itu. Pada alinea terakhir berbunyi: “Dua hari yang lampau tuan Ketua memberi kesempatan kepada kita sekalian juga boleh mengeluarkan perasaan”. “Dua hari yang lampau” itu berarti tanggal 27 Mei 1945, sedangkan sidang baru dibuka pada tanggal 29 Mei 1945. Artinya, seperti dikatakan Bung Hatta, pidato Yamin itu memang disampaikan di Panitia Kecil—pasca Soekarno menyampaikan pidato tanggal 1 Juni 1945.
Mohammad Yamin sendiri mengakui Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Itu dapat dilihat di pidato Yamin pada 5 Januari 1958 : “Untuk penjelasan ingatlah beberapa tanggapan sebagai pegangan sejarah: 1 Juni 1945 diucapkan pidato yang pertama tentang Pancasila…, tanggal 22 Juni 1945 segala ajaran itu dirumuskan di dalam satu naskah politik yang bernama Piagam Jakarta … dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disiarkanlah Konstitusi Republik Indonesia, sehari sesudah permakluman kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konstitusi itu pada bagian pembukaan atau Mukadimahnya dituliskan hitam di atas putih dengan resmi ajaran filsafat pancasila.”
Roeslan Abdulgani, yang sempat menjadi Menteri Penerangan di era Bung Karno, juga menyebut Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Dua pemikiran besar di dalam pancasila, yaitu Sosio-nasionalisme (penggabungan sila ke-2 dan ke-3) dan Sosio-demokrasi (penggabungan sila ke-4 dan ke-5), sudah ‘digarap’ oleh Bung Karno sejak tahun 1920-an. Dalam konteks ini, Hatta juga punya peranan ketika menaburkan ide-ide tentang demokrasi kerakyatan.
Dari mana datangnya istilah Pancasila itu? Dalam buku “Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civic)” dikatakan, kata “Pancasila” berasal dari bahasa Sangsekerta: Panca berarti lima, sedangkan sila berarti dasar kesusilaan.
Sebagai kata majemuk, kata “Pancaҫila” sudah dikenal dalam agama Budha. Bila diartikan secara negatif, ia berarti lima pantangan: (1) larangan membinasakan makhluk hidup, (2) larangan mencuri, (3) larangan berzinah, (4) larangan menipu, dan (5) larangan minum miras.
Dalam karangan Mpu Prapantja, Negarakretagama, kata “Pancaҫila” juga ditemukan di buku (sarga) ke-53 bait kedua: “Yatnanggegwani Pancaҫila Krtasangskarabhisekakrama (Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan itu, begitu pula upacara ibadat dan penobatan).
Akan tetapi, jika diperhatikan dengan seksama, tidak ada keterkaitan antara Pancaҫila dalam Budha dan Negarakretagama dengan Pancasila yang menjadi dasar atau ideologi bangsa kita itu.
Bung Karno, dalam kursus Pancasila di Istana Negara, 5 Juni 1958, membantah pendapat bahwa “Pancasila (dasar negara kita) adalah perasan dari Buddhisme. Katanya, Pancasila itu tidak pernah congruent dengan agama tertentu, tetapi juga tidak pernah bertentangan dengan agama tertentu.
Soekarno sendiri menolak disebut sebagai “penemu Pancasila”. Baginya, lima mutiara dalam Pancasila itu sudah ada dan hidup di bumi dan tradisi historis bangsa Indonesia. Soekarno hanya menggalinya setelah sekian lama tercampakkan oleh kolonialisme dan penetrasi kebudayaan asing. 

http://m.berdikarionline.com/lipsus/20120530/asal-usul-pancasila.html

Read full post »

Teori Negara Marx dimata Soekarno

0 komentar
Soekarno

 Marxisme, dimulai sejak jaman Marx, sudah memperkaya perdebatan tentang negara. Berbeda dengan intelektual pada umumnya, marxisme menolak ide negara sebagai “badan yang netral”.
Bagi marxisme, negara bukanlah badan yang netral; ia adalah suatu organisasi kekerasan untuk menindas suatu kelas. Pemahaman ini telah diterima dan diperkaya oleh kaum marxis sejak jaman Marx hingga Lenin.
Soekarno adalah seorang penganut marxisme. Ia mempelajari karya-karya kaum marxis dengan cukup baik. Ia juga banyak belajar marxisme dari orang-orang yang disebut sebagai kaum marxis. Itu berlangsung sejak ia indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh besar pergerakan nasional jaman itu, yang rumahnya seolah jadi “markas kaum pergerakan”.
Pada tahun 1958, ketika memberi kuliah pancasila di Istana Negara, Bung Karno mengurai panjang lebar soal teori-negara Marx. Bung Karno memulai penjelasannya dengan mengeritik keabsahan kesimpulan Hegel tentang negara, bahwa negara adalah penjelmaan dari ide-ide yang luhur.
Bung Karno, seraya menarik demarkasi dari Hegel, menjelaskan bahwa negara tak lain dan tak bukan ialah sebuah organisasi. Atau, lebih tepatnya, sebuah organisasi kekuasaan (mechsorganisatie).
Friedrich Engels, seperti dikutip Lenin dalam “Negara dan Revolusi”, juga mengeritik cara pandang Hegel mengenai kemunculan negara. Bagi Engels, negara bukan merupakan kekuatan yang dipaksakan dari luar kepada masyarakat, melainkan produk masyarakat pada tingkat perkembangan tertentu (masyarakat berklas).
Soekarno mengutip kesimpulan Marx: “negara sebagai manchtosganisatie di dalam tangannya suatu klas untuk menindas klas yang lain.” Di dalam kapitalisme, negara menjadi manchtosganisatie di tangan kaum kapitalis untuk menindas proletar.
Di situ, kata bung Karno, kekuasaan negara akan digunakan untuk menjalankan kepentingannya menindas kepentingan proletar.
Situasi itu berubah ketika terjadi revolusi. Negara, kata Soekarno yang berusaha menjelaskan fikiran Marx, yang awalnya di tangan kapitalis, akhirnya jatuh ke tangan klas proletar. Pada saat itulah muncul bentuk negara baru: diktator proletariat.
Karl Marx
Dengan diktatur proletariat ini, kata Bung Karno, akan menjadi alat kekuasaan proletariat untuk menindas klas borjuis. Dengan demikian, katanya lagi, makin lama borjuis makin lemah, semakin surut, dan akhirnya akan menghilang.
“Dan, kalau tinggal cuma satu klas, maka itu bukan klas lagi,” tegas Bung Karno ketika menjelaskan proses “melenyapnya negara” dalam teori Marx.
Itulah, kata Soekarno, yang disebut Karl Marx sebagai masyarakat tanpa klas (klasseloze maatschappij). Saat itu, ujar Soekarno lagi, manusia tetap ada dan bahkan berkembang biak lebih banyak. Tetapi masyarakat itu tidak mempunyai klas lagi: klasseloos.
Dan, karena itu pula, maka machtsorganisatie sebagai machtsorganisatie sudah tidak ada lagi. Akhirnya, masyarakat pun menjadi stateloos (tanpa negara). Yang tinggal hanya fungsi administrasi manusia-manusia, seperti fungsi guru, fungsi insinyur, dan lain-lain.
Marx sendiri punya rumusan sendiri mengenai lintasan perjuang klas proletar ini: 1) bahwa adanya kelas-kelas itu hanya lah bertalian dengan fase-fase kesejarahan khusus dalam perkembangan produksi [historische Entwicklungesphasen der Produktion]; 2) bahwa perjuangan kelas pasti menuju pada diktatur proletariat; 3) bahwa diktatur ini sendiri hanyalah merupakan peralihan ke arah penghapusan semua kelas dan ke arah masyarakat tanpa kelas.
Memang, dibandingkan “Negara dan Revolusi”-nya Lenin, uraian Bung Karno di atas memang terlalu singkat dan jauh dari lengkap, bahkan mungkin ada yang meleset dari penyimpulannya terhadap teori negara Marx.
Bung Karno banyak mengadopsi teori negara Marx dalam teori-teori politiknya. Ia, misalnya, menganjurkan agar perjuangan kaum marhaen mestilah mengarah pada pembangunan kekuasaan (machtvorming). Dengan machtvorming, kaum proletar punya kekuasaan untuk mencapai kepentingan klasnya.
Mengapa? Dalam tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka”, ia telah mengutip kata-kata Marx; “Tak pernah suatu klas mau melepaskan hak-hak istimewanya dengan kemauan sendiri atau sukarela”. Jadi jelas, arah dari perjuangan marhaen adalah merebut kekuasaan politik untuk melikuidasi klas penindasnya.


* Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/sisi-lain/20111126/teori-negara-marx-di-mata-soekarno.html#ixzz2KBsAk7da 

Read full post »
 

Copyright © Hidup adalah Perjuangan Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger